Rabu, 16 Juli 2008
MOTIVASI
AL MAU’IDZAH
KEINGINAN ADALAH BUKTI DARI KEMAMPUAN YANG ANDA MILIKI
Seorang pemuda bertanya kepada Socrates tentang bagaiman ia memperoleh ilmu filsafat. Socrates menjawab, “ kesinilah bersamaku.”
Lalu Socrates membawanya ke sungai dan memegang kepala pemuda itu untuk ditenggelamkan ke dalam air sambil menahannya. Hingga sang pemuda meronta-ronta mencari udara. Baru setelah itu Socrates mengangkat kepala pemuda itu dari dalam air.
Setelsh si pemuda dapat mengendalikan diri, Socrates bertanya kepadanya, “Apa yang paling kamu inginkan ketika beraada di dalam air tadi?”
“ Aku ingin udara dan bernapas,” jawab si pemuda.
“ Nah, itu dia,” kata Socrates. “ jika kamu ingin mempelajari filsafat seperti keinginanmu untuk bernapas disaaat tenggelam tadi, maka kamu sungguh akan mendapatkannya.”
CARA PANDANG KITA TERHADAP SUATU MASALAH MASIH BERMASALAH
Dua orang anggota pasukan berkuda pada abad pertengahan saling berselisih mengenai warna sebuah monument kuno. Yang satu mengatakan warnanya kuning, dan yang satunya lagi mengatakan warnanya biru. Padahal monumen itu sebenarnya berwarna kuning dan biru, karena kedua sisi monument itu diberi warna yang berbeda dengan sisi yang lain.
Kedua orang gagah perkasa itu tidak mau berpikir sejenak untuk meneliti warna monument pada kedua sisinya. Cita-cita mereka hanyalah ingin mengalahkan dan menunjukan kesalahan yang lain.
Oleh karena itu, hasilnya hanyalaah saling melemparkan umpatan pedas dan menghunus pedang serta anak panah untuk berkelahi.
CAHAYA DALAM KEGELAPAN
Alkisah, seorang pemuda menderita saskit parah. Dia pergi dri tanah kelahirannya menuju kesjumlah kota dan negara untuk mencari obat. Ayah pemuda ini mengetahui penyakit anaknya yang disebabkan oleh ketidakstabilan jiwa dan terlalu temperamental. Disaat ia sedang melancong mencari obat, sang ayah menulis surat sebagai berikut :
“ Anakku, kamu sekarang berda di suatu tempat yang jaraknya 1500 mil dari rumah. Tapi kamu masih tetap merasakan hal yang sama. Benar, bukan ? Benar, kamu pasti masih merasakan hal yang sama, karena disaat perjalanan jauh ini kamu masih membawa sumber penderitaanmu, yaitu dirimu sendiri.
Ketahuilah, bukan penyakit fisik ataupun akal yang membuatmu begini. Juga bukan sebuah pengalaman pahit yang pernah kamu rasakan. Sesungguhnya yang menghancurkanmu adalah cara berpikirmu dalam menghadapi pengalaman hidup. Seseorang tergantung pada pola pikirnya. Jika kamu sudah menyadari hal ini maka kembalilah bersama keluarga, karena semua itulah yang dapat menyembuhkanmu. “
Sang pemuda berkata, “ Aku terhina dengan surat itu, sehingga karena marahnya, aku memutuskan untuk tidak kembali ke rumah dan keluarga.” Tetapi pada malam itu ketika sedang menelusuri jalan, aku menemukan sebuah masji yang digunakan untuk sembahyang. Saat itu ku belum mempunyai tujuan pasti. Akhirnya aku berjalan menuju tempat ibadah untuk mendengarkan nasihat agama yang disiarkan. Nasihat agama itu berjudul “ orang yang dapat menundukan dirinya sendiri lebih hebat dari orang yang bisa menundukan sebuah kota.”
Nsihat dari tempat ibdah itu dan surat dari ayah seakan obat yang mampu menghilangkan kegelisahan di dalam pikiran. Sungguh aku ingin melihat diriku yang sesungguhnya. Anda melihat bagaimana aku ingin mengubah dunia dan segala isinya, padahal satu-satunya hal yang membutuhkan perubahan serius adlah orientasi dan pola pikirku , adalah aku sendiri.
HINDARI TERJEBAK DALAM JERAT DIRI
Mark adalah seorang koki besar. Ia memimpin seb uah restoran yang sukses dan mempunyai sebuah cita-cita.
Ia ingin restorannya masuk dalam daftar makanan enak. Tetapi ia merasa tidak pantas untuk mengungkapkannya walaupun dengan isyarat, karena ia hanya merasa seperti orang lain dan dil uah restoran yang sukses dan mempunyai sebuah cita-cita.
Ia ingin restorannya masuk dalam daftar makanan enak. Tetapi ia merasa tidak pantas untuk mengungkapkannya walaupun dengan isyarat, karena ia hanya merasa seperti orang lain dan diliputi rasa tidak percaya diri. Pada suatu hari, sebuah penghargaan besar diberikan kepadanya, dan semua orang mengetahui tentang kelebihannya dalam sebuah artikel. Tetapi ia tidak bahagia dengan semua itu padahal dulu ia mendambakan untuk mendapatkan penghormatan seperti itu. Setelah menerima itu semua, ia malah merasa sedih dan sengsara. Kenapa?
Karena ia tidak mampu menghorati dirinya dengan cara yang lebih iputi rasa tidak percaya diri. Pada suatu hari, sebuah penghargaan besar diberikan kepadanya, dan semua orang mengetahui tentang kelebihannya dalam sebuah artikel. Tetapi ia tidak bahagia dengan semua itu padahal dulu ia mendambakan untuk mendapatkan penghormatan seperti itu. Setelah menerima itu semua, ia malah merasa sedih dan sengsara. Kenapa?
Karena ia tidak mampu menghorati dirinya dengan cara yang lebih uah restoran yang sukses dan mempunyai sebuah cita-cita.
Ia ingin restorannya masuk dalam daftar makanan enak. Tetapi ia merasa tidak pantas untuk mengungkapkannya walaupun dengan isyarat, karena ia hanya merasa seperti orang lain dan diliputi rasa tidak percaya diri. Pada suatu hari, sebuah penghargaan besar diberikan kepadanya, dan semua orang mengetahui tentang kelebihannya dalam sebuah artikel. Tetapi ia tidak bahagia dengan semua itu padahal dulu ia mendambakan untuk mendapatkan penghormatan seperti itu. Setelah menerima itu semua, ia malah merasa sedih dan sengsara. Kenapa?
Karena ia tidak mampu menghorati dirinya dengan cara yang lebih baik atas prestasinya dan meremehkan penilain orang atas daftar makanan enak ini.
Karena ia selalu berprinsip bahwa “Tidak terlalu penting untuk masuk dalam ‘daftar makanan enak’ karena jika banyak orang lain yang bisa masuk ke dalam daftar tersebut.”
POSISI TANGGA YANG TERLETAK PADA TEMBOK YANG SALAH; DAYA VITALITAS YANG TERBUANG PERCUMA
Alkisah, seorang lelaki yang sedang mabuk di tempat hiburan malam di kota paris terlihat serius mencari sesuatu. Ketika ditanya polisi, lelaki itu mengaku sedang mencari kunci pintu rumah. Polisi itu ingin memastikan apakah benar kunci itu jatuh di tempat ini atau tidak. Tetapi jawaban sang lelaki sangat mengejutkan, karena menurutnya, kunci rumah itu jatuh di ujung jalan.
Pak polisipun terperanjat dan kembali menanyakan, “lalu mengapa anda mencari kunci itu di sini, sedangkan kuncinya tidak jatuh di sini?”
Laki-laki mabuk itu menjawab,
‘ Karena cahaya di tempat ini lebih terang sehingga penglihatanpun menjadi lebih jelas.”
BIJAKSANALAH DALAM MEMBUAT PERBANDINGAN
Alkisah ada seorang perempuan tua yang ditinggal mati anaknya. Dia membopong jasad anaknya kepada teman dan saudaranya agar mereka memberikan wasilah untuk menghidupkan anaknya kembali. Sebagian dari teman dan saudaranya itu memberinya petunjuk agar ia membawa anaknya yang sudah mati ini ke budha.
Dengan bergegas perempuan tua ini membawa anaknya ke kuil sang Budha untuk meminta kembali nyawa anaknya. Mendengar permintaan ini , sang Budha bergidik kemudian berkata “Aku dapat mengembalikan nyawa anakmu, dengan syarat kamu membawakan bubuk merica dari rumah yang belum pernah disinggahi kematian kepadaku.”
Di rumah pertama yang ia temui, ia bertanya kepada pemilik rumah, “Apakah kematian pernah menimpoa rumah ini ?
Si pemilik rumah menjawab, “Apa yang kamu katakana wahai ibu ? sungguh orang yang hidup hanyalah sedikit, sedangkan yang mati itu banyak sekali.”
Kemudian wanita ini berpindah dari satu rumah kerumah yang lain mencari rumah yang belum pernah di hinggapi kematian, tetapi semua rumah telah kehilangan orang-orang terkasihnya baik itu ayah, ibi, suami, maupun anak.
Akhirnya, perempuan itu tidak kembali kepada sang Budha, karena ia telah mengakui kesalahan dirinya.
KEINGINAN ADALAH BUKTI DARI KEMAMPUAN YANG ANDA MILIKI
Seorang pemuda bertanya kepada Socrates tentang bagaiman ia memperoleh ilmu filsafat. Socrates menjawab, “ kesinilah bersamaku.”
Lalu Socrates membawanya ke sungai dan memegang kepala pemuda itu untuk ditenggelamkan ke dalam air sambil menahannya. Hingga sang pemuda meronta-ronta mencari udara. Baru setelah itu Socrates mengangkat kepala pemuda itu dari dalam air.
Setelsh si pemuda dapat mengendalikan diri, Socrates bertanya kepadanya, “Apa yang paling kamu inginkan ketika beraada di dalam air tadi?”
“ Aku ingin udara dan bernapas,” jawab si pemuda.
“ Nah, itu dia,” kata Socrates. “ jika kamu ingin mempelajari filsafat seperti keinginanmu untuk bernapas disaaat tenggelam tadi, maka kamu sungguh akan mendapatkannya.”
CARA PANDANG KITA TERHADAP SUATU MASALAH MASIH BERMASALAH
Dua orang anggota pasukan berkuda pada abad pertengahan saling berselisih mengenai warna sebuah monument kuno. Yang satu mengatakan warnanya kuning, dan yang satunya lagi mengatakan warnanya biru. Padahal monumen itu sebenarnya berwarna kuning dan biru, karena kedua sisi monument itu diberi warna yang berbeda dengan sisi yang lain.
Kedua orang gagah perkasa itu tidak mau berpikir sejenak untuk meneliti warna monument pada kedua sisinya. Cita-cita mereka hanyalah ingin mengalahkan dan menunjukan kesalahan yang lain.
Oleh karena itu, hasilnya hanyalaah saling melemparkan umpatan pedas dan menghunus pedang serta anak panah untuk berkelahi.
CAHAYA DALAM KEGELAPAN
Alkisah, seorang pemuda menderita saskit parah. Dia pergi dri tanah kelahirannya menuju kesjumlah kota dan negara untuk mencari obat. Ayah pemuda ini mengetahui penyakit anaknya yang disebabkan oleh ketidakstabilan jiwa dan terlalu temperamental. Disaat ia sedang melancong mencari obat, sang ayah menulis surat sebagai berikut :
“ Anakku, kamu sekarang berda di suatu tempat yang jaraknya 1500 mil dari rumah. Tapi kamu masih tetap merasakan hal yang sama. Benar, bukan ? Benar, kamu pasti masih merasakan hal yang sama, karena disaat perjalanan jauh ini kamu masih membawa sumber penderitaanmu, yaitu dirimu sendiri.
Ketahuilah, bukan penyakit fisik ataupun akal yang membuatmu begini. Juga bukan sebuah pengalaman pahit yang pernah kamu rasakan. Sesungguhnya yang menghancurkanmu adalah cara berpikirmu dalam menghadapi pengalaman hidup. Seseorang tergantung pada pola pikirnya. Jika kamu sudah menyadari hal ini maka kembalilah bersama keluarga, karena semua itulah yang dapat menyembuhkanmu. “
Sang pemuda berkata, “ Aku terhina dengan surat itu, sehingga karena marahnya, aku memutuskan untuk tidak kembali ke rumah dan keluarga.” Tetapi pada malam itu ketika sedang menelusuri jalan, aku menemukan sebuah masji yang digunakan untuk sembahyang. Saat itu ku belum mempunyai tujuan pasti. Akhirnya aku berjalan menuju tempat ibadah untuk mendengarkan nasihat agama yang disiarkan. Nasihat agama itu berjudul “ orang yang dapat menundukan dirinya sendiri lebih hebat dari orang yang bisa menundukan sebuah kota.”
Nsihat dari tempat ibdah itu dan surat dari ayah seakan obat yang mampu menghilangkan kegelisahan di dalam pikiran. Sungguh aku ingin melihat diriku yang sesungguhnya. Anda melihat bagaimana aku ingin mengubah dunia dan segala isinya, padahal satu-satunya hal yang membutuhkan perubahan serius adlah orientasi dan pola pikirku , adalah aku sendiri.
HINDARI TERJEBAK DALAM JERAT DIRI
Mark adalah seorang koki besar. Ia memimpin seb uah restoran yang sukses dan mempunyai sebuah cita-cita.
Ia ingin restorannya masuk dalam daftar makanan enak. Tetapi ia merasa tidak pantas untuk mengungkapkannya walaupun dengan isyarat, karena ia hanya merasa seperti orang lain dan dil uah restoran yang sukses dan mempunyai sebuah cita-cita.
Ia ingin restorannya masuk dalam daftar makanan enak. Tetapi ia merasa tidak pantas untuk mengungkapkannya walaupun dengan isyarat, karena ia hanya merasa seperti orang lain dan diliputi rasa tidak percaya diri. Pada suatu hari, sebuah penghargaan besar diberikan kepadanya, dan semua orang mengetahui tentang kelebihannya dalam sebuah artikel. Tetapi ia tidak bahagia dengan semua itu padahal dulu ia mendambakan untuk mendapatkan penghormatan seperti itu. Setelah menerima itu semua, ia malah merasa sedih dan sengsara. Kenapa?
Karena ia tidak mampu menghorati dirinya dengan cara yang lebih iputi rasa tidak percaya diri. Pada suatu hari, sebuah penghargaan besar diberikan kepadanya, dan semua orang mengetahui tentang kelebihannya dalam sebuah artikel. Tetapi ia tidak bahagia dengan semua itu padahal dulu ia mendambakan untuk mendapatkan penghormatan seperti itu. Setelah menerima itu semua, ia malah merasa sedih dan sengsara. Kenapa?
Karena ia tidak mampu menghorati dirinya dengan cara yang lebih uah restoran yang sukses dan mempunyai sebuah cita-cita.
Ia ingin restorannya masuk dalam daftar makanan enak. Tetapi ia merasa tidak pantas untuk mengungkapkannya walaupun dengan isyarat, karena ia hanya merasa seperti orang lain dan diliputi rasa tidak percaya diri. Pada suatu hari, sebuah penghargaan besar diberikan kepadanya, dan semua orang mengetahui tentang kelebihannya dalam sebuah artikel. Tetapi ia tidak bahagia dengan semua itu padahal dulu ia mendambakan untuk mendapatkan penghormatan seperti itu. Setelah menerima itu semua, ia malah merasa sedih dan sengsara. Kenapa?
Karena ia tidak mampu menghorati dirinya dengan cara yang lebih baik atas prestasinya dan meremehkan penilain orang atas daftar makanan enak ini.
Karena ia selalu berprinsip bahwa “Tidak terlalu penting untuk masuk dalam ‘daftar makanan enak’ karena jika banyak orang lain yang bisa masuk ke dalam daftar tersebut.”
POSISI TANGGA YANG TERLETAK PADA TEMBOK YANG SALAH; DAYA VITALITAS YANG TERBUANG PERCUMA
Alkisah, seorang lelaki yang sedang mabuk di tempat hiburan malam di kota paris terlihat serius mencari sesuatu. Ketika ditanya polisi, lelaki itu mengaku sedang mencari kunci pintu rumah. Polisi itu ingin memastikan apakah benar kunci itu jatuh di tempat ini atau tidak. Tetapi jawaban sang lelaki sangat mengejutkan, karena menurutnya, kunci rumah itu jatuh di ujung jalan.
Pak polisipun terperanjat dan kembali menanyakan, “lalu mengapa anda mencari kunci itu di sini, sedangkan kuncinya tidak jatuh di sini?”
Laki-laki mabuk itu menjawab,
‘ Karena cahaya di tempat ini lebih terang sehingga penglihatanpun menjadi lebih jelas.”
BIJAKSANALAH DALAM MEMBUAT PERBANDINGAN
Alkisah ada seorang perempuan tua yang ditinggal mati anaknya. Dia membopong jasad anaknya kepada teman dan saudaranya agar mereka memberikan wasilah untuk menghidupkan anaknya kembali. Sebagian dari teman dan saudaranya itu memberinya petunjuk agar ia membawa anaknya yang sudah mati ini ke budha.
Dengan bergegas perempuan tua ini membawa anaknya ke kuil sang Budha untuk meminta kembali nyawa anaknya. Mendengar permintaan ini , sang Budha bergidik kemudian berkata “Aku dapat mengembalikan nyawa anakmu, dengan syarat kamu membawakan bubuk merica dari rumah yang belum pernah disinggahi kematian kepadaku.”
Di rumah pertama yang ia temui, ia bertanya kepada pemilik rumah, “Apakah kematian pernah menimpoa rumah ini ?
Si pemilik rumah menjawab, “Apa yang kamu katakana wahai ibu ? sungguh orang yang hidup hanyalah sedikit, sedangkan yang mati itu banyak sekali.”
Kemudian wanita ini berpindah dari satu rumah kerumah yang lain mencari rumah yang belum pernah di hinggapi kematian, tetapi semua rumah telah kehilangan orang-orang terkasihnya baik itu ayah, ibi, suami, maupun anak.
Akhirnya, perempuan itu tidak kembali kepada sang Budha, karena ia telah mengakui kesalahan dirinya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar