Senin, 30 Juni 2008

budaya

Islam dan Jawa adalah dua entitas yang berbeda . Namun dalam kenyataannya, keduanya dapat hidup berdampingan secara damai (peacefully). Masuknya Islam ketanah Jawa itu sendiri terbukti tidak menimbulkan berbagai ketegangan-ketegangan (tension) yang cukup berarti. Bahkan lebih dari itu, keduanya saling terbuka untuk berinteraksi dan interelasi pada tataran nilai dan budaya.
Ketika Islam masuk ke Jawa ada dua hal yang perlu dicatat. Pertama, pada waktu itu hampir secara keseluruhan dunia Islam dalam keadaan mundur. Dalam bidang politik antara lain di tandai dengan jatuhnya Dinasti Abbasiyah oleh serangan Mongol pada 1258 M, dan tersingkirnya Dinasti Al Ahmar di Andalusia (Spanyol) oleh tentara Aragon dan Castella pada 1492 M. Di bidang pemikiran kalau pada masa-masa sebelumnya telah muncul ulama-ulama besar di bidang hukum, teologi, filsafat, tasawuf dan sains, pada masa ini pemikiran-pemikiran tersebut telah mengalami kemunduran. Pada masa ini telah semakin berkembang pendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup dan kelompok-kelompok tarekat sesat semakin berkembang di kalangan umat Islam.
Kedua, sebelum kedatangan Islam di Jawa, Hindu, Budha dan Kepercayaan asli yang berdasarkan Animisme dan Dinamisme telah berurutakar di kalangan mayarakat jawa. Oleh karena itu dengan datangnya Islam terjadi pergumulan antara islam di satu pihak, dengan kepercayaan-kepercayaan yang ada sebelumnya di pihak lain. Akibatnya muncul dua kelompok dalam menerima Islam. Pertama, yang menerima Islam secara total dengan tanpa mengingat pada kepercayaan-kepercayaan lama. Kedua, adalah mereka yang menerima ajaran Islam, tetapi belum dapat melupakan ajaran-ajaran lama. Oleh karena itu mereka mencampur adukan antara kebudayaan dan ajaran-ajaran Islam dengan kepercayaan-kepercayaan lama.
Mula-mula Islam yang berkembang di Indonesia adalah Islam sufi (mistik ), yang salah satu cirri khasnya adalah sifatnya yang toleran dan akomodatif terhadap kebudayaan dan kepercayaan setempat, yang dibiarkannya tetap eksis sebagaimana semula, hanya kemudian diwarnai dan diisi dengan ajaran-ajaran Islam. Dengan demikian islamisasi di Indonesia, termasuk di Jawa, lebih bersiftat kontinuitas apa yang sudah ada dan bukannya perubahan dalam kepercayaan dan praktek keagamaan lokal. Sehingga upacara-upacara sperti nelung dino, mitung dino, matang puluh, nyatus, mendak, dan nyewu, yang merupakan tradisi pra Islam dalam rangka menghormati kematian seseorang, tidak dihilangkan oleh para mubaligh, tetapi dibiarkan berlanjut dengan diwarnai dan diisi dengan unsur-unsur dari agama Islam.
Sikap yang toleran dan akomodatif terhdap kebudayaan dan kepercayaan setempat, di satu sisi memang dianggap membawa dampak negatif, yaitu sinkretisasi dan pencampuradukan antara Islam di satu sisi dan dengan kepercayaaan-kepercayaan lama dipihak lain, sehingga sulit di bedakan mana yang benar-benar ajaran Islam dan mana yang berasal dari tradisi. Namun aspek positifnya, ajaran-ajaran yang disinkretiskan tersebut telah menjadi jembatan yang memudahkan masyarakat jawa dalam menerima Islam sebagai agama mereka yang baru. Dan sebaliknya, ajaran-ajaran tersebut telah memudahkan pihak Islam pesantren untuk mengenal dan memahami pemikiran dan budaya Jawa, sehingga memudahkan mereka dalam mengajarkan dan menyiarkan Islam kepada masyarakat jawa. Cerita tentang Walisongo yang sakti mandraguna dan mampu melakukan hal-hal luar biasa di luar batas kemampuan manusia telah menarik perhatian bukan saja kaum pesantren, tetapi juga masyarakat yang kurang taat dalam beragama.
hgj dengan lingkaran hidup manusia sejak dari keberadaanya dalam perut ibu, lahir, kanak-kanak, remaja, dewasa sampai dengan saat kematiannya. Atau juga upacara-upacara yang berkaitan dengaan aktifitas kehidupan sehari-hari dalam mencari nafkah, khususnya bagi para petani, pedagang, nelayan, dan upacara-upacara yang berkaitan dengan tempat tinggal, seperti membangun gedung untuk berbagai keperluan, membangun dan meresmikan tempat tinggal, pindah rumah dan lain sebagainya. Upacara-upacara itu semula dilakukan dalam rangka untuk menangkal pengaruh buruk dari daya kekuatan gaib yang tidak dikehendaki yang akan membahayakan bagi kelangsungan hidup manusia. Dalam kepercayaan lama , upacara dilakukan dengan mengadakan sesaji atau semacam korban yang disajikan kepada daya-daya kekuatan gaib ( roh-roh, makhluk halus, dewa-dewa ) tertentu. Tentu dengan upacara itu harapan pelaku upacara adalah agar hidup senantiasa dalam keadaan selamat.
Islam mengajarkan kepada kita semua agar melakukan kegiatan-kegiatan ritualistik, yang meliputi berbagai bentuk ibadah sebagaimana yang tersimpul dalam rukun Islam, yakni syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji. Di dalam Islam tidak dibenarkan memberikan ibadah apapun kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam kondisi sempit maupun lapang. Ketika seseorang dalam keadaan terjepit seperti tertimpa musibah, penyakit atau yang lainnya atau dalam keadaan senang, sehat wal a’fiat, aman dan tentram. Kalau ada yang mengatakan “acara-acara tersebut diselenggarakan bukan dalam rangka ibadah!” Ketahuilah ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridha’i Allah apakah berupa perkataan atau perbuatan yang terlahir maupun tersembunyi. Inilah pengertian ibadah menurut Islam.
Secara luwes Islam memberikan warna baru pada upacara-upacara jawa di antaranya dengan sebutan slametan atau kenduren. Di dalam upacara slametan ini yang pokok adalah pembacaan doa yang dipimpin oleh orang yang dipandang memiliki pengetahuan tentang Islam, apakah seorang mudin, kaum, atau kyai. Selain itu terdapat seperangkat makanan yang dihidangkan bagi para peserta selamatan, serta makanan yang dibawa pulang kerumah masing-masing peserta selamatan yang disebut sebagai berkat. Makanan-makanan itu disediakan oleh penyelenggara upacara atau sering disebut shahibul hajat. Dalam bentuknya yang khas, makanan inti adalah tumpeng, ingkung ayam, dan ditambah ubarampe yang lain. Pada masa sekarang ini di sebagian daerah sudah tidak lagi menggunakan tumpeng sebagai makanan khas tetapi sudah mengalami perubahan dengan menggantikannya dengan nasi biasa atau maknan yang lainnya.
Yang jadi masalah adalah ketika selamatan tersebut dianggap bagian dari ajaran agama dan dihukumi wajib / sunnah. Sehingga dapat memberatkan bagi penyelenggar yang dipandang kurang mampu dari segi ekonomi.
Demikianlah sekilas tentang pergumulan antara Islam di satu pihak, dengan tradisi dan budaya jawa pra Islam di pihak lain. Menolak semua tradisi dan budaya Jawa pra Islam bagi masyarakat muslim adalah suatu kemustahilan, karena sebagai anggota masyarakat Jawa, mereka terikat dengan norma dan tradisi yang berlaku. Namun, menerima suatu tradisi Jawa dengan tanpa seleksi adalah langkah yang bertentangan dengan prinsip-prinsip keberagaman yang mengharuskan adanya seorang nabi atau rasul yang ditugaskan untuk mengajarkan risalah atau ajaran tertentu yang harus ditaati oleh para pengikutnya. Hal ini terjadi karena ada adat dan tradisi yang bertentengan dengan ajaran-ajaran Islam. Selagi hal ini tidak bertentangan dengan Islam, para ulama tidak memasalahkan untuk mengadopsinya. Tapi apabila sudah menyangkut masalah ritual, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian bersikap toleran terhadap perbuatan tersebut dan sebagian menolaknya. Bahkan kalau jelas-jelas sudah menyinggung masalah aqidah / kepercayaan, mereka sepakat menolaknya.



Tidak ada komentar: