PENDAHULUAN
Sejarah umat Islam dapat dibagi menjadi tiga periode. Periode pertama adalah periode klasik. Periode kedua adalah periode pertengahan, dan periode ketiga adalah periode modern. Periode modern diwarnai oleh kebangkitan nasionalisme dan cengkraman penjajahan barat. Negara-negara arab yang masuk dalam periode modern, diantaranya: Mesir, Syria, Kuwait, Oman, Uni Emirat Arab, Yaman, Saudi Arabia. Pembahasan pada makalah ini hanya dibatasi pada wilayah Mesir dan tokoh-tokoh yang berpengaruh di Mesir.
Jika ditinjau dari letak wilayahnya dalam atlas dunia, Mesir berada di wilayah benua Afrika, tetapi jika ditinjau dari segi perjalanan sejarah dan perkembangan kebudayaannya, Mesir tidak dapat dilepaskan dari kesatuan wilayah Asia Barat. Bersama-sama dengan Syria dan Irak, Mesir membentuk blok sendiri yang berbeda dengan blok Afrika Utara dan blok jazirah Arab. Negara Mesir-Syria dibahas bersama-sama karena setiap kekuasaan yang pernah tumbuh di Mesir selalu menghendaki Syria termasuk kedalam wilayahnya dan sebaliknya.
Selama Mesir berada di bawah kekuasaan Utsmani, tidak ada perubahan-perubahan radikal yang terjadi dalam tata susunan pemerintahan. Perubahan yang ada hanyalah pengangkatan raja muda dan pasya serta penempatan sekitar 500 anggota pasukan Jennisari yang dilakukan oleh Utsmani. Pada abad ke-17 kekusaan sultan Utsmani mulai melemah, dan Mesir mulai melepaskan diri sehingga menjadi daerah otonomi. Sultan Utsmani tetep mengirm pasya turki ke Cairo untuk bertindak sebagai wakil dalam memerintah daerah itu (Duta Besar). Akibat kurangnya pengetahuan mereka tentang Mesir pasya-pasya ini tidak bisa mengontrol jalannya pemerintahan di daerah-daerah dengan baik. Konflik antara pasya (Utsmani) dan Bei (Mamluk) merupakan tema yang selalu muncul dalam sejarah politik Mesir. Pada tahun 1769, Ali Bei, seorang mamluk kelahiran Caucasus mampu mengusir pasya Utsmani dari Mesir. Kemudian memaklumatkan dirinya bebas dari kekuasaan Mesir.
Pada tanggal 2 Juni 1789 M, Napoleon Bonaparte mendarat di Alexandria dengan alasan untuk menghukum pengusa-penguasa mamluk yang sudah berlaku sewenang-wenang. Pada tanggal 22 Juni Napoleon telah dapat mengusai Mesir. Ekpedisi yang dpimpin oleh Napoleon Bonaparte ini tidak hanya terdiri dari pasukan-pasukan tempur, tetapi juga dalam rombongannya terdapat sekiter 500 kaum sipil dan 500 wanita. Di antara kaum sipil itu ada 167 ahli dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Napoleon Bonaparte juga membawa dua set alat percetakan dengan huruf latin, Arab dan Yunani.
Institut D’Egypte yang dibentuk oleh Napoleon Bonaparte mempunyai empat bagian: bagian ilmu pasti, bagian ilmu alam, bagian ekonomi politik dan Sastra- seni. Perpustakaan besar yang berisi banyak buku dalam bahasa Eropa, Arab, Persia dan Turki sangat menarik perhatian salah seoranng ulama Al-Azhar yaitu Abd Al-Rahman Al-jabarsi. Alat-alat ilmiah seperti teleskop, mikroskop, alat-alat percobaan kimiawi, kesungguhan orang-orang Perancis dalam bekerja dan kecintaan mereka pada ilmu pengetahuan sangat menakjubkan Al jabarsi. Inilah kondisi umat Islam saat itu, pada periode klasik orang-orang Barat kagum dengan kebudayaan dan peradaban Islam, pada periode modern ini kaum Muslim yang heran melihat kebudayaan dan kemajuan Barat.
BAB II
PEMBAHASAN
Semenjak umat Islam menyadari ketertinggalan dan kelemahannya, timbulah ide pembaharuan dalam Islam. Para tokoh pembaharu mengajak semua umat Islam untuk bangkit dari keterlenaan tidur yang lama. Mereka harus sadar bahwa bangsa-bangsa Barat yang telah maju dalam bidang sains dan teknologi terutama dalam bidang militer, telah datang menjajah negara atau wilayah Islam. Mereka tidak hanya sekedar menjajah, tetapi berusaha menyebarkan misi agama di kalangan masyarakat Muslim yang di jajahnya.
Di antara tokoh-tokoh pembaharu (Modernis) yang lahir dalam dunia Islam adalah sebagai berikut:
A. Muhammad Ali (1765-1849 M)
Di antara usaha-usaha pembaharuan yang dilakukannya adalah:
1) Dalam bidang militer
Jatuhnya Mesir ketangan Napoleon Bonaparte menyadarkan Muhammad Ali. Ia melihat kemajuaan yang dicapai Negara-negara Barat, terutama Perancis, begitu hebat. Kemajuan dalam teknik peperangan membuat Perancis dengan mudah mengalahkan Mesir. Setelah Perancis dapat diusir oleh Inggris tahun 1802 M. Muhammad Ali mengundang Stive, seorang perwira tinggi Perancis untuk melatih tentara Mesir. Untuk keperluan itu Muhammad Ali mendirikan sekolah militer tahun 1815 M dan mengirimkan pelajar untuk belajar kemiliteran di Perancis.
2) Dalam bidang pendidikan
Sekolah yang didirikan oleh Muhammad Ali, di antaranya adalah sekolah Teknik didirikan pada tahun 1816 M, sekolah kedokteran didiriksn pada tahun 1827 M, sekolah Apoteker didirikan pada tahun 1829 M, sekolah pertambangan didirikan pada tahun 1834 M dan sekolah penterjemahan didirikan pada tahun 1836 M. Muhammmad Ali juga banyak mengirim pelajar ke Perancis untuk belajar ilmu pengetahuan berupa Sains dan Teknologi Barat.
3) Dalam bidang Ekonomi
Pengambilalihan pemilikan tanah oleh Negara dan hasilnya dipergunakan untuk kepentingan pembangunan negara. Dan untuk menjaga kesuburan tanah Mesir, Ia membangun sistem irigasi, sehingga hasilnya menjadi lebih baik.
Gerakan pembaharuan yang terjadi pada abad ke-18, terus berlanngsung, sampai akhirnya pada abad ke-19 M muncul tokoh-tokoh pembaharu yang merupakan produk dari gerakan pembaharuan Islam masa-masa sebelumnya. Di antaranya yaitu:
A. Al-Tahtawi (1801-1873 M)
Al- Tahtawi diberi kepercayaan untuk mendirikan sekolah penterjemahan pada tahun 1836 M. Ia juga aktif menulis di Koran “Al waqoi Al mishriyah” yang didirikan Muhammad Ali. Koran ini tidak hanya mengulas peristiwa yang terjadi di Mesir, tetapi juga memuat tentang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kehebatan Al-tahtawi dalam tulis menulis tertuang dalam karyanya. Di antara karya itu adalah:
1) Takhlish al-Ibriz fi Talkhish Baris yang berisi kemajuan Eropa, terutama di Perancis.
2) Manahij al-Bab al-Mishriyah fi manahij al-Adab al-Ashriyah yang menerangkan pentingnya sektor ekonomi bagi kemajuan negara. Di dalamnya juga dijelaskan perbandingan pemerintah Islam dan Eropa.
3) Al-Mursyid Al-Amin li al-Banat wa al-Banin yang menerangkan pentingnya pendidikan diberikan kepada anak-anak baik laki-laki maupun perempuan.
4) Al-Qaula Al-Sadid fi al-Ijtihad wa al-Taqlid yang berisi keharusan ijtihad, karena pintu ijtihad tidak tertutup.
5) Anwar taufiq al-jalil fi Akubar al-Mishir wa tautsiq Bani Ismail berisi puji-pujian terhadap raja dalam memajukan pembangunan di Mesir, sehingga Mesir mengalami kemajuan pesat.
Ide-ide pembaharuan Al tahtawi adalah sebagai berikut:
1) Ajaran Islam bukan hanya mementingkan soal akhirat, tetapi juga soal hidup di dunia .
2) Kekuasaan Absolut Raja harus di batasi oleh Syari’at, dan raja hasur bermusyawarah dengan Ulama dan kaum intelektual.
3) Syari’at harus dipahami sesuai dengan perkembangan modern.
4) Kaum Ulama harus mempelajari Filsafat, dan ilmu-ilmu pengetahuan modern agar dapat memahami Syari’at sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern.
5) Pendidikan harus bersifat universal. Wanita harus memperoleh pendidikan yang sama dengan kaum pria. Istri harus menjadi teman dalam kehidupan intelektual dan social.
6) Umat Islam harus dinamis dan meninggalkan sifat statis.
B. Muhammad Abduh (1849-1905 M)
Akibat ketidaksenangannya terhadap penguasa Ia dan Jamaludin di usir ke Paris. Di kota ini mereka mendirikan majalah “Al Urwatul Wutsqo”. Setelah setahun tinggal di Perancis, Ia diijinkan kembali ke Mesir dan kemudian diangkat menjadi Rektor Al Azhar, Cairo. Sebagai rector Al Azhar, Ia memasukan kurikulumn Filsafat dalam pendidikan Al Azhar. Upaya itu dilakukan untuk merubah cara-cara berfikir orang Al Azhar. Usahanya ini mendapat tantangan keras dari para Syekh Al Azhar lainnya yang masih berfikiran kolot. Oleh karena itu, usaha pembaharuan yang dilakukannya lewat pendidikan di Al Azhar tidak berhasil.
Ide-ide pembaharuan yang dibawa Muhammad Abduh membawa dampak positif bagi bagi perkebangan pemikiran dalam islam. Di antara ide-ide pembaharuannya adalah:
1) Penghapusan paham Jumud yang sedang berkembang di dunia Islam saat itu.
2) Pembukaan pintu ijtihad, karena ijtihad merupakan dasar yang paling penting dalam menginterpretasikan kembali ajaran Islam.
3) Penghargaan dalam akal. Muhammad Abduh mengatakan bahwa Islam adalah agama rasional yang sejalan dengan akal sebab dengan akalah ilmu pengetahuan maju.
4) Kekuasaan negara harus dibatasi oleh kontitusi yang dibuat oleh negara yang bersangkutan.
5) Memodernisasikan sistem pendidikan Islam di Al-Azhar.
C. Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935 M)
Rasyid Ridha adalah murid Muhammad Abduh. Bersama-sama dengan dengan gurunya, Rasyid Ridha menerbitkan majalah “Al Manar” yang memiliki tujuan sama dengan “Al Urwatul Wutsqo”. Di antaranya adalah pembaharuan dalam bidang agama, sosial, ekonomi, memberantas khurafat dan bid’ah,. Menghilangkan faham fatalisme, serta faham-faham yang dibawa oleh tarekat. Ia juga mendesak gurunya, Muhammad Abduh untuk menulis Al-Qur’an secara modern, yang kemudian dikenal dengan tafsi Al-Manar.
Di antara ide-ide pembaharuan Muhammad Rasyid Ridha adalah:
1) Menumbuhkan sifat aktif dan dinamis di kalangan umat.
2) Umat Islam harus menghilangkan faham fatalisme (Jabariyah).
3) Akal dapat digunakan untuk menafsirkan wahyu maupun hadits dengan tidak meninggalkan prinsip umum.
4) Umat islam harus menguasai sains dan teknologi jika ingin maju.
5) Kemunduran umat islam disebabkan karena banyaknya unsur bid’ah dan khurafat yang masuk ke dalam ajaran Islam.
6) Kebahagiaan di dunia dan akhirat diperoleh melalui hukum alam yang ditetapkan oleh Allah.
7) Perlunya menghidupkan kembali system pemerintahan khalifah.
8) Khalifah adalah penguasa di seluruh dunia islam yang menguasai bidang agama dan politik.
9) Khalifah haruslah seorang mujtahid besaryang dengan bantuan para ulama dengan menerapkan prinsip-prinsip hukum islam.
Gerakan pembaharuan yang dilakukan para tokoh tersebut, bergema keseluruh penjuru dunia muslim.
BAB III
PENUTUP
Ada satu benang merah yang bisa ditarik dari para intelektual muslim, yaitu perasaan dan semangat untuk membebaskan umat Islam dari dari belenggu keterbelakangan dan kejumudan sejak kemunduran umat Islam. Karena belenggu inilah yang dianggap sebagai sebab utama ketidakberdayaan bangsa Muslim di depan bangsa Asing. Hanya dengan membangun kembali (rekonstruksi) cara pandang dan sikap keberagaman mereka, kondisi yang menyedihkan itu dapat diperbaiki dan kemudian dapat diatasi. Sehingga lahirlah suatu tatanan baru dalam dunia Islam, yaitu kebangkitan Dunia Islam, baik dalam bidang ilmu pengetahuan, politik, pendidikan dan kebangkitan melawan penjajah Barat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar